“MY DREAMS CAME TRUE”

Bermimpi itu gratis, mudah, dan menyenangkan. Mimpi-mimpi itu bisa muncul sekelebat dalam pikiran kita. Tanpa disadari, mimpi-mimpi yang gw harapkan terwujud, walau ga semua. Tapi bener-bener ga nyangka, ternyata gw bisa kalau gw punya kemauan. Gw pengen buat list MY DREAMS CAME TRUE” itu di sini untuk sekedar sharing. ^^

1.         Merasakan gimana rasanya kalau punya IP sempurna (4,00).
Baru aja semester 1, tapi udah dapat rezeki IP 4,00. Mungkin karena otak masih fresh kali ya, dan masih semangat 45 belajar di tempat yang baru. Tapi, memang susah mempertahankannya. Sampai sekarang, belum pernah dapat IP 4,00 lagi. Alhamdulillahnya, masih cumlaude tanpa dihiasi vitamin C. Hehe.. Kalau sekarang doa gw cuma satu, jangan sampai huruf C itu menghantui transkrip gw sampai lulus kuliah. .
2.         Jadi asisten dosen + jadi asisten dosen terbaik
Dari awal masuk kuliah, gw pengen banget jadi asisten dosen Ekonomi Umum. Kesannya keren aja. Mimpi ini baru bisa gw capai di semester 4. Syaratnya cukup banyak, harus menguasai Ekonomi Umum, Pengantar Matematika, Kalkulus I, Makroekonomi I dan Mikroekonomi I. Kemudian ada tes mengajar yang bisa gw lalui dengan lancar. Ngajar itu memang capek dan harus sabar karena karakter mahasiswa itu berbeda-beda. Gw berusaha memberi yang terbaik yang gw bisa. Dan akhirnya kelas yang gw ajar memperoleh nilai ujian tertinggi, jadi gw dapat gelar “asdos terbaik” dan diberi insentif uang tambahan. ^^ Lebih senang lagi waktu denger anak-anak bilang “diajar kak desi lebih enak, lebih ngerti”. Alhamdulillah..
3.         Masuk final di kontes FEM Ambassador 2010

Gw ga begitu cantik, ga tinggi, tapi nonton final FEM Ambassador 2009 bikin gw pengen membuktikan pada diri sendiri bahwa ga perlu cantik-cantik amat, ga perlu tinggi-tinggi amat buat bisa tampil di malam final FEM Ambassador. Dan terbukti kok, gw bisa buktiin gw bisa masuk final dan berhasil tembus ke 10 besar. Cuma 10 besar kok bangga sih? Memang, gw ga jadi juara 1 atau runner up. Tapi penentuan kejuaraan di malam final terlalu subjektif, pemilihan dilakukan berdasarkan kemampuan bahasa inggris dalam menjawab pertanyaan juri. Gw rasa FEM Ambassador bukan ajang English Contest, jadi seharusnya jawaban setiap finalislah yang harus diutamakan. Right? Dan disana gw menampilkan tarian tradisional Bajidor Kahot untuk unjuk bakat.
4.         Jadi Mahasiswa Berprestasi
Seleksi mapres dilaksanakan dari tingkat departemen, kemudian fakultas, IPB, hingga akhirnya ke tingkat nasional. Gw ga menargetkan terlalu jauh karena proses seleksi mapres itu maha berat. Kurang tidur berminggu-minggu, lupa makan, tekanan mental dari dosen, dll. karena harus membuat karya tulis yang bagus dalam waktu singkat. Karya tulis itu kemudian harus dipresentasikan dalam bahasa Inggris di depan juri. I was so nervous, bahkan sampai kalap menjawab pertanyaan juri yang unpredictable dan bersifat menjatuhkan. Tapi, perjuangan gw terasa terbayar ketika karya tulis gw dipuji, malah softcopy-nya sampai diminta. Gw meraih juara 3 tingkat fakultas karena memang tidak punya pengalaman di kancah internasional. Kalau kalian pengen jadi mapres, siapkan diri kalian sedini mungkin supaya hasilnya maksimal, jangan sampai dikejar-kejar deadline kayak gw. Hehe.
Apa gw pernah ngalamin kegagalan? Jawabannya sering. Gw pernah gagal masuk ITB dan akhirnya terdampar di IPB. Gw gagal magang karena kurang giat nyari informasi. Gw pernah gagal seleksi summer course ke USA. Dsb. It’s okay kok, yang penting kita percaya bahwa kesempatan itu akan datang lagi walaupun bentuknya berbeda. Rezeki kita ga akan tertukar sama siapapun. Makanya gw yakin suatu saat gw bisa ke luar negeri gratis, main salju, jadi orang kaya, dll. Amin…

0 komentar: